kemeriahan (kemerdekaan) dalam kesederhanaan

Published 16 Agustus 2010 by anyta

itulah tema peringatan kemerdekaan RI di kampungku tahun ini. perayaan kemerdekaan di tengah-tengah perayaan ibadah Ramadhan. semangatnya menyiapkan acara peringatan kemerdekaan tidak lantas mengurangi kenikmatan dan kekhusyukan menjalankan ibadah Ramadhan. inilah nasionalisme yang religi -dengan pemahamannya masing2-

kayaknya memang tidak hanya kampungku saja yang tetap eksist mengadakan tirakatan pada malam 17 agustus, yang bersamaan pada malam di bulan Ramadhan (nanti malam maksudnya) karena kampung2 lainnya  ada beberapa yang masih mengadakan tirakatan pada malam ini, meski banyak juga kampung-kampung  yang memilih memfokuskan Ramadhan untuk ibadah saja. baiknya sih seperti itu ya😀

tetapi sebagai bagian dari masyarakat, aku merasa berkewajiban berkontribusi di sana, setidaknya “menjaga” agar hal-hal yang mudhorot atau sia-sia tidak dilakukan. syukurlah setidaknya beberapa tahun ini sudah tidak ada konsep orkes d*n*dut di setiap pentas kampung. inilah bagian dari kewajiban kita di masyarakat, ga cuman komentar jika ada kemunkaran terjadi tapi kita ga mau mencegahnya, hanya jadi penonton saja, minjem istilah anak-anak sma, jadi tonti (penonton inti) saja ahh, lalu bagaimana kita mau mengarahkan masyarakat kita ke “kultur” yang lebih baik, menjadikan masyarakat kita menjadi bi’ah islamiyah jika kita “gaul” ikut kegiatan kampung saja tidak pernah (curhatan diri sendiri zaman “dulu” kala nih😀 ), meskipun untuk mewujudkan itu semua butuh proses yang lebih lama dan panjang di ranah kampung/sya’bi dibanding ranah lainnya (sekolah atau kampus atau profesi) tetapi inilah saatnya kita mengaplikasikan bahwa diri kita tidak hanya sekedar menjadi orang yang sholih individu/pribadi tapi juga sholih sosial, alangkah lebih baik jika masyarakat merasakan “kesholihan” kita, karena sadar atau tidak itu adalah hak mereka yang harus kita tunaikan. prinsip yang tetap dijaga dan lebih kuat lagi dijaga saat kita di ranah sya’bi adalah “warnailah tetapi tidak terwarnai, dan bergabunglah tapi tidak melebur/tercampur”. wallahua’lam bishowab.

– – – – – – – – – – – –

yang masih tertatih-tatih “sendiri” mengamalkannya

Laa khaula wa laa khuwwata illa billah

10 comments on “kemeriahan (kemerdekaan) dalam kesederhanaan

  • Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s

    %d blogger menyukai ini: