i.n.s.p.i.r.a.s.i

Published 19 Oktober 2010 by anyta

beberapa hari yang lalu secara tidak sengaja aku menonton film-film dokumenter karya eagle award yang diputar oleh salah satu stasiun televisi swasta. film-film yang ditayangkan adalah film-film terbaik hasil sineas-sineas muda yang mengangkat nilai KEJUJURAN, KETULUSAN, KEBERANIAN, KEMULIAAN, serta KEIMANAN tokoh-tokoh di dalamnya yang nyata terjadi di kehidupan sekitar kita. berikut ringkasan 3 film yang sempat ku tonton (judulnya agak lupa-lupa ingat, jadi ini judul versiku yak ^_^ ) :

1. PERAWAT vs OMBAK LAUTAN

:: Kalau istilah perawat apung pernah kita dengar, film ini pun kurang lebih menceritakan hal yang hampir sama, yaitu perjuangan seorang perawat yang telah hampir 20 tahun mengabdikan dirinya menjadi pejuang kesehatan di suatu pulau pedalaman terpencil di daerah Flores sana.

:: Tidak banyak tenaga kesehatan di daerahnya yang tergerak hatinya dan mau untuk melakukan apa yang dia lakukan padahal besar resikonya menyeberangi lautan setiap saat entah pagi, siang, sore maupun malam hari dari pulau tempat tinggalnya menuju pulau kecil di pedalaman sana, tetapi tidak bagi dirinya, meskipun dia seorang wanita tetapi ketulusan hatinya, keyakinannya kepada Allah SWT yang akan menjaga dirinya serta kemuliaan mimpinya untuk mengenalkan apa itu kesehatan dan menjadikan masyarakat sadar akan kesehatan telah memotivasinya untuk terus berjuang.

:: Sehari-harinya ia adalah perawat di puskesmas kecamatan di daerah Flores, dan di luar jam kerja puskesmas dia berlayar menuju pulau kecil di pedalaman seberang Flores, untuk memberikan pelayanan kesehatan di sana. Menyeberangi lautan sudah menjadi hal yang biasa baginya, ikut merasakan menerjang ombak lautan yang besar bersama kapal sederhana yang mengangkutnya, pernah seakan-akan kapal hampir rata dengan ombak karena saking kecilnya kapal dan saking besarnya terjangan ombak saat itu. Kurang lebih 6 jam dia lewatkan di kapal untuk sampai di pulau pedalaman yang dituju, itupun masih disambung dengan perjalanan naik sampan kecil sehingga terkadang larut malam jam 1 dia baru tiba di pulau tujuan, tidak ada istirahat yang nyaman untuknya tapi tak ada keluh baginya.

:: Penolakan masyarakat suku pedalaman terhadap pemeriksaan kesehatan yang dia lakukan terjadi di awal-awal kedatangannya. masyarakat disana tidak terbiasa dengan hal-hal medis karena mereka masih menganut kepercayaan nenek moyang dimana penyembuhan orang sakit adalah dengan ritual tertentu atau dengan ramuan tradisional. Perjuangannya untuk menjelaskan apa itu kesehatan dan pendekatan medis dengan obat-obatan, pengenalan terhadap jenis penyakit dan proses perawatan serta penyembuhannya, sampai akhirnya masyarakat pedalaman itu sadar dan mau memeriksakan dirinya jika sakit adalah proses panjang yang tidak mudah baginya tetapi kesabarannya pun membuahkan hasil yang manis.

:: Semua kewenangan medis diambil alih olehnya (kewenanangan dokter dan bidan pun dia lakukan) sampai dia berfikir apa yang dia lakukan bisa disebut malpraktik tetapi kenyataan tidak adanya dokter dan bidan di sana mau tidak mau membuatnya untuk mau belajar tentang ilmu medis yang lebih luas dan melakukan tugas profesi sejawatnya. Kerja kerasnya pun tidak diberikan penghargaan yang layak oleh pemerintah -pihak yang seharusnya punya tanggungjawab besar dalam hal ini- karena gajinya pun tidak setiap bulan dibayarkan, mereka selalu berbaik sangka bahwa gaji akan dirapel, fasilitas pelayanan kesehatan tidak ada perbaikan bahkan obat-obatan pun tidak disupply setiap saat, hmm sungguh suatu sisten yang sangat tidak mendukung.

:: Semua keterbatasan yang ada tidak membuat dirinya menyerah dan berputus asa karena tetap ada yang dijadikan “sandaran” dan “tempat meminta” yang lebih kuasa melebihi makhluk-NYA, selama kita masih mempunyai kepercayaan dan prasangka baik padaNYA (tsiqoh dan khusnudzhan billah). “Iyyaa ka na’budu wa iyyaa ka nasta’iiin” (Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan)

2. KEPALA SEKOLAHKU PEMULUNG

:: Dirinya adalah seorang kepala sekolah di salah satu MTSn di daerah Jakarta. Dia orang yang sangat sederhana. Rumahnya yang ditempati dirinya bersama istri dan anak-anaknya tidaklah rumah yang mewah bahkan hanya rumah kecil yang ada di tengah pemukiman padat pinggiran kota Jakarta. Tidak ada kendaraan yang dia miliki. Cukup kaki yang menjadi kendaraan baginya maupun anggota keluarganya menuju ke tempat tujuan masing-masing sehari-harinya.

:: Penghasilannya dari mengajar dan sebagai kepala sekolah belum tentu dapat mencukupi kebutuhan hidupnya bersama keluarganya karena gaji guru di sekolah swasta tergantung pada jumlah murid-muridnya, itupun kalau mereka mampu membayar baiya sekolah tepat waktu. Kondisi ini membuat dirinya berfikir untuk mencari penghasilan di luar sebagai kepala sekolah. Dulu pernah selama beberapa tahun dia menjadi satpam tetapi jam kerja yang hingga larut malam membuat esok paginya ketika mengajar menjadi tidak optimal karena rasa kantuk yang hebat. Akhirnya dia memutuskan melakukan pekerjaan sampingan sebagai pemulung sampah karena disamping rumahnya merupakan tempat pembuangan akhir sampah sehingga mudah, dijangkau olehnya, dan itupun tanpa perlu modal besar serta tanpa perlu keahlian tertentu.

:: Sehari-hari setelah pulang dari sekolah, dirinya mulai berjibaku dengan sampah-sampah yang juga menjadi sumber penghidupan bagi keluarganya. Dengan sabar dan ulet serta tanpa rasa malu dia pilah-pilah dan punguti sampah-sampah yang dapat dijualnya. Penjualan dari sampah-sampah itu pun sangat membantu pemenuhan kebutuhan keluarganya. Tidak perlu merasa malu dengan apa yang dikerjakan selama itu halal dan baik. Bahkan pekerjaan yang sering dipandang sebelah mata itupun sebenarnya membantu kehidupan masyarakat lainnya. Bayangkan jika sampah terus menumpuk tanpa ada yang “peduli dan mau” untuk “mengolahnya” maka bisa jadi suatu saat wilayah kita akan ditenggelamkan oleh sampah, maka berterimakasihlah pada mereka.

:: Yang menarik dari prinsip dirinya yaitu ketika dia menceritakan sering ditawari menjadi guru les privat seorang anak orang kaya yang gajinya terjamin 1juta tiap bulannya, diantar jemput pula tapi dia menolak dengan halus karena baginya jika dia terima tawaran itu maka orientasi pekerjaannya adalah uang dan itu berarti dia mengejar duniawi saja sedangkan dia tidak ingin hanya mengajar secara asal-asalan saja tanpa peduli apakah anak didiknya paham atau tidak, bukan seperti itu prinsip hidupnya, dia ingin menjadi sebaik-baik penyampai ilmu bagi anak didiknya sampai ilmu itu difahami tanpa berkurang sedikitpun. Ada tanggung jawab moral yang dia pertaruhkan. Agar anak didiknya kelak menjadi sebaik-baik generasi penerus yang bermanfaat bagi sekitarnya. Itulah impian sederhananya yang bagiku sangat mulia.

3 . SEMANGAT PENANAM BAKAU

:: Belajar dari kejadian tsunami di Aceh, dia merasa tergerakkan hatinya untuk melindungi daerah sekitarnya dari kemungkinan kejadian serupa karena ulah manusia. Dirinya yang menyadari daerahnya yang secara geografis dekat dengan pantai dan perairan yang “gersang” karena ulah penebangan hutan liar memunculkan gagasan dalam pikirannya untuk menghijaukan kembali area sekitarnya dan menjadikan hutan bakau yang akan melindungi dan menjadikan alamnya kembali lestari.

:: Pemikirannya tidak kemudian disetujui oleh masyarakat di sekitarnya bahkan banyak orang yang mencemoohnya karena idenya adalah ide yang gila karena tidak akan mungkin bisa menanam bakau di sana. Cemoohan orang-orang tidak menyurutkan langkahnya tapi justru melecut semangatnya untuk mewujudkannya, dia ingin membuktikan bahwa apa yang diimpikannya akan menjadi nyata. Bersama istri yang selalu mendukungnya mulailah dia menyusuri hutan perairan untuk mencari bibit bakau dan meskipun penuh luka di kaki dan tangan tetapi perjuangannya mendapatkan bibit bakau membuahkan hasil.

:: Satu per satu tetangganya dia ajak untuk mulai menanam dan merawat bibit bakau tadi sehingga dalam beberapa waktu ratusan bahkan ribuan pohon bakau telah menjelma menjadi hutan bakau yang rimbun, yang akan membantu melindungi alam.

:: Sang pelestari lingkungan alam ini bersyukur dan berbahagia karena impian yang pernah dicemooh orang-orang akhirnya mampu juga dia wujudkan meski tanpa modal dan bantuan dari pemerintah tetapi dia buktikan bahwa tidak ada yang tidak mungkin selama kita mau berusaha, berusaha, berusaha dan juga tentunya berdo’a pada Tuhan. Di satu sisi pernah juga ada rasa kesedihan dan kemarahan yang amat besar dia rasakan ketika suatu saat dijumpainya banyak pohon bakau yang tumbuh besar hasil kerja kerasnya bersama masyarakat sekitar tiba-tiba ditebang seenaknya sendiri oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. “ Kita orang yang bekerja keras, orang lain yang merusaknya. Bagaimana Indonesia akan maju jika banyak orang yang berbuat tidak baik seperti itu.” ucapnya menunjukkan ekspresi kekecewaannya.

———————————————————————————————————————————————-

subhanallah…

sangat inspiratif, idealis, penuh ketulusan, keimanan dan kemuliaan

-mimpi itu sejatinya diperjuangkan untuk orientasi ukhrawy yang lebih abadi-

itulah komentarku sesaat setelah usai menonton, menyaksikan kejadian nyata di sekitar kita, yang akan menjadi penambah lecut semangatku karena kisah yang pertama itu adalah juga mimpiku, suatu saat kelak, insyaAllah ^_^

6 comments on “i.n.s.p.i.r.a.s.i

  • Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s

    %d blogger menyukai ini: