“maaf Mbah…”

Published 19 November 2010 by anyta

Petang kemaren, sebuah sms masuk ke hp ku, sms dari pakdhe yang intinya mengabarkan kalau simbah putri gerah (sakit) dan rencana akan dibawa ke rumah sakit. Seketika aku agak cemas karena memang kondisi simbah putri dan simbah kakung sudah lama dalam kondisi kurang baik. Simbah putri harus mengandalkan bantuan alat untuk berjalan, simbah kakung sudah demensia dan mengalami gangguan pendengaran serta hipotensi.Meskipun begitu, keduanya tetap ingin mandiri dalam melakukan aktivitasnya sehari-hari.

Mendengar kabar itu aku benar-benar merasa bersalah karena sejak letusan Merapi terakhir yang menghebohkan tanggal 5 November kemaren, aku sama sekali belum bisa meluangkan waktu untuk sekedar silaturahim menengok simbah. Kondisi yang membuatku harus “tertahan” di barak pengungsian sekedar membantu kebutuhan para pengungsi. Padahal saat-saat itu simbah juga dalam masa yang rawan karena rumah simbah hanya berjarak 100meter dari Kali Code  (yang juga meluap karena aliran lahar dingin) sehingga simbah harus dievakuasi ke rumah saudara yang cukup aman. Itupun hanya mbah putri yang mau dipindahkan karena beliau sudah susah berjalan, sedangkan mbah kakung tetap ngotot untuk bertahan di rumah sambil berujar “aku ning omah wae, aku mati urip ning kene, wegah ning ngendi-ngendi”, begitulah cerita dari saudaraku.

 

Malam tadi akhirnya simbah putri diperiksakan ke dokter oleh pakdhe yang memang rumahnya bersebelahan dengan simbah dan aku hanya menunggu kepastian apakah simbah akan diopname atau tidak. Aku sudah bertekad akan segera meluncur ke rumah sakit tempat simbah dirawat jika memang jadi diopname tapi alhamdulillah tadi pagi saat aku pastikan kabar beliau, dokter mengatakan simbah tidak perlu dirawat, tensinya memang tinggi dan muntah-muntah berkali-kali serta tidak mau makan tetapi setelah diberikan pengobatan secukupnya, simbah putri langsung dibawa pulang kembali. Alhamdulillah. Setidaknya simbah tidak perlu diinfus dan disuntik berkali-kali di rumah sakit. Bisa jadi simbah seperti itu karena kecemasan dan kelelahan masa-masa rawan saat dievakuasi kemaren atau “psychosomatis”.

 

Bagaimanapun, aku tetap merasa bersalah, di tengah kesibukanku “mengurusi” orang lain, justru ada hak simbah yang aku lalaikan, astaghfirullah. “Maaf Mbah, kula dereng saged nuweni simbah, insyaAllah mangkih ndalu kula usahakaken, mugi-mugi simbah enggal sehat, syafakillah mbah”


————————————————————————————————————————————–

Di barak pun aku “diberikan” simbah kakung dan simbah putri juga. Ada  pengungsi sepasang simbah suami istri yang kondisinya juga memprihatinkan. Simbah kakung itu tidak bisa berbicara, hanya mengerang-erang saja karena dulu beliau terkena stroke sepertinya, dan masa pengungsian membuat psikologis beliau agak tergoncang. Mbah putri yang adalah sang istri dengan teguh, tabah dan sabar merawat dan memenuhi kebutuhan suaminya.

Menangis sejadi-jadinya simbah putri itu di hadapanku dan tak segan ia memelukku saat aku datang membawakan sekedar makan malam dan kebutuhan untuknya, seperti ia memeluk cucunya sendiri. Ingin jatuh pula airmataku, tapi tidak, aku harus kuat dihadapan beliau karena beliau butuh orang-orang disekelilingnya untuk mensupportnya. “Tetaplah bersabar mbah”. Merekalah yang mengingatkanku seketika pada simbah kakung dan simbah putriku. MasyaAllah.

7 comments on ““maaf Mbah…”

  • Alhamdulillah, akhirnya siang tadi menjelang dhuhur sebelum meluncur ke Pleret, tertunaikan janjiku silaturahim dan menjenguk mbah putri. Meski hanya berbekal puding coklat untuk simbah dan waktu yang singkat untuk ngobrol tapi kepuasan bagiku karena telah menunaikan hak beliau berdua.

    Alhamdulillah simbah sudah agak sehat😀
    Terimakasih untuk teman-teman yang ikut mendoakan, semoga Allah juga melimpahkan kesehatan bagi yang mendoakan, amin.

    • silakan me-link-kan, terimakasih kunjungannya ke blog saya

      blog ini biasa saja koq, yang ingin dirubah apanya ya? penambahan widget atau temanya? saya juga otodidak moles-molesnya

  • Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s

    %d blogger menyukai ini: