.:. RENUNGAN RAMADHAN .:.

Published 10 Agustus 2011 by anyta

Renungan Ramadhan

Alm. Ust. Rahmat Abdullah
"Musuh-musuh ummat mestinya belajar untuk mengerti bahwa bayi yang 
dilahirkan ditengah badai tak akan gentar menghadapi deru angin. 
Yang biasa menggenggam api jangan diancam dengan percikan air. 

Mereka ummat yang biasa menantang dinginnya air di akhir malam,
lapar dan haus di terik siang."

Tak pernah air melawan qudrat yang ALLAH ciptakan untuknya,
mencari dataran rendah dan semakin kuat ketika dibendung
dan menjadi nyawa kehidupan.
Lidah api selalu menjulang dan udara selalu mencari daerah minimum
dari kawasan maksimum, angin pun berhembus. 

Edaran yang pasti dari keluarga galaksi,
membuat manusia dapat membuat mesin pengukur waktu, kronometer,
menulis sejarah, catatan musim dan penanggalan.
Semua bergerak dalam harmoni yang menakjubkan.
Ruh pun –dengan karakternya sebagai ciptaan ALLAH– menerobos kesulitan
mengaktualisasikan dirinya yang klasik saat tarikan grativasi
“bumi jasad” memberatkan penjelajahannya menembus hambatan dan badai cakrawala.

Kini dibulan ini (Ramadhan), ia begitu ringan, menjelajah langit ruhani.
Carilah bulan diluar Ramadhan saat orang dapat mengkhatamkan tilawah
satu, dua, tiga sampai empat kali dalam sebulan.
Carilah momentum saat orang berdiri lama dimalam hari,
saat orang menyelesaikan sebelas atau dua puluh tiga rakaat.
Carilah musim kebajikan saat orang begitu santainya melepaskan “ular harta” yang membelitnya. 

Inilah momen yang membuka seluas-luasnya kesempatan ruh mengeksiskan dirinya
dan mendekap erat-erat fitrah dan karakternya. 

Marhaban ya syahra ramadlan Marhaban ya syahra’ as-shiyami
Marhaban ya syahra ramadlan Marhaban ya syahra’ al-qiyami.

Keqariban ditengah keghariban (pendekatan diri ditengah keterasingan) 

Ahli zaman kini mungkin leluasa menertawakan muslim badui yang
bersahaja, saat ia bertanya : “Ya Rasul ALLAH, dekatkah Tuhan kita?
Sehingga saya cukup berbisik saja atau jauhkah Ia sehingga saya harus
berseru kepada-NYA?” 

Sebagian kita telah begitu ‘canggih’ memperkatakan Tuhan. Yang lain
merasa bebas ketika beban-beban orang bertuhan telah mereka persetankan.

Bagaimana rupa hati yang Ia tiada bertahta disana? Betapa miskinnya
anak-anak zaman, saat mereka saling benci dan bantai. Betapa sengsaranya
mereka saat menikmati kebebasan semu; makan, minum, seks, riba, suap,
syahwat dan seterusnya, padahal mereka masih berpijak dibumi-NYA. 

Betapa menyedihkan orang yang grogi menghadapi kehidupan dan persoalan,
padahal Ia yang memberinya titah untuk menuturkan pesan suci-NYA. Betapa
bodohnya masinis yang telah mendapatkan peta perjalanan, kisah kawasan
rawan, mesin kereta yang luar biasa tangguh dan rambu-rambu yang
sempurna, lalu masih membawa keluar lokonya dari rel, untuk kemudian
menangis-nangis lagi di stasiun berikutnya, meratapi kekeliruannya.
Begitulah berulang seterusnya. 

Semua ayat dari 183 – 187 surah Al Baqarah bicara secara tekstual
tentang puasa. Hanya satu ayat yang tidak menyentuhnya secara tekstual,
namun sulit mengeluarkannya dari inti hikmah puasa.
“Dan apabila hamba-hambaku bertanya tentang Aku, maka katakanlah : sesungguhnya Aku ini dekat…( Al Baqarah : 185). 

Apa yang terjadi pada manusia dengan dada hampa kekariban (kedekatan)
ini? Mereka jadi pandai tampil dengan wajah tanpa dosa didepan publik,
padahal beberapa menit sebelum atau sesudah tampilan ini mereka menjadi
drakula dan vampir yang haus darah, bukan lagi menjadi nyamuk yang
zuhud. Mereka menjadi lalat yang terjun langsung kebangkai-bangkai,
menjadi babi rakus yang tak bermalu, atau kera, tukangtiru yang rakus. 

Bagaimana mereka menyelesaikan masalah antar mereka? Bakar rumah, tebang
pohon bermil-mil, hancurkan hutan demi kepentingan pribadi dan
keluarga, tawuran antar warga atau anggota lembaga tinggi Negara,
bisniskan hukum, atau jual bangsa kepada bangsa asing dan rentenir
dunia. Berjuta pil pembunuh mengisi kekosongan hati ini. Berapa lagi
bayi lahir tanpa berstatus bapak yang syar’i? Berapa lagi rakyat yang
menjadi keledai tunggangan para politisi bandit? Berapa banyak lagi
ayat-ayat dan pesan dibacakan sementara hati tetap membatu? Berapa
banyak lagi kurban berjatuhan sementara sesama saudara saling tidak
peduli? 

 Al Qur’an dulu baru yang lain

 Bacalah Al-Qur’an, ruh yang menghidupkan, sinari pemahaman dengan sunnah
 dan perkaya wawasan dengan sirah, niscahya Islam itu terasa nikmat,
 harmoni, mudah, lapang dan serasi. Al-Qur’an membentuk frame berfikir.
 Al-Qur’an mainstream perjuangan. Nilai-nilainya menjadi tolak ukur
 keadilan, kewajaran, dan kesesuaian dengan karakter, fitrah dan watak
 manusia. Penguasaan outline-nya menghindarkan pandangan parsial juz’i.
 penda’wahannya dengan kelengkapan sunnah yang sederhana, menyentuh,
 aksiomatis, akan memudahkan orang memahami Islam, menjauhkan
 perselisihan dan menghemat energi umat. 

 Betapa da’wah Al-Qur’an dengan madrasah tahsin, tahfiz dan tafhimnya
 telah membangkitkan kembali semangat keislaman, bahkan dijantung tempat
 kelahirannya sendiri. Ahlinya selalu menjadi pelopor jihad digaris
 depan, jauh sejak awal sejarah ini bermula. Bila Rasullah meminta orang
 menurunkan jenazah dimintanya yang paling banyak penguasaan Qur’annya.
 Bila menyusun komposisi pasukan, diletakannya pasukan yang lebih banyak
 hafalannya. Bahkan dimasa awal sekali ‘unjuk rasa’ pertama digelar
 dengan pertanyaan “Siapa yang berani membacakan surat Arrahman di
 ka’bah?” Dan Ibnu Mas’ud tampil dengan berani dan tak menyesal atau jera
 walaupun pingsan dipukul musyrikin kota Makkah. 

 Nuzul Qur’an di Hira, Nuzul Qur’an di hati 

 Ketika pertama kali Al-Qur’an diturunkan, ia telah menjadi petunjuk
 untuk seluruh manusia. Ia menjadi petunjuk sesungguhnya bagi mereka yang
 menjalankan perintah-Nya dan meninggalkan larangan-Nya. Ia benar-benar
 berguna bagi kaum beriman dan menjadi kerugian bagi kaum yang zalim.
 Kelak saatnya orang menyalakan rambu-rambu, padahal tanpa rambu-rambu
 kehidupan jadi kacau. Ada juga orang berfikir malam qodar itu selesai
 sudah karena ALLAH menyatakan dengan anzalnahu ( kami telah
 menurunkannya) tanpa melihat tajam-tajam pada kata tanazzalu’l Malaikatu
 wa’l Ruhu (pada malam itu turun menurunlah para malaikat dan ruh),
 dengan kata kerja permanen.

 Bila malam adalah malam, saat matahari terbenam, siapa warga negeri yang
 tak menemukan malam; kafirnya dan mukminnya, fasiqnya dan shalihnya,
 munafiqnya dan shiddiqnya. Yahudi dan nasraninya? Jadi apakah malam itu
 malam fisika yang meliput semua orang dikawasan? 

 Jadi ketika Ramadhan di gua Hira itu malamnya disebut malam qadar, saat
 turun sebuah pedoman hidup yang terbaca dan terjaga, maka betapa
 bahaginya setiap mukmin yang sadar dengan Nuzulnya Al-Qur’an dihati pada
 malam qadarnya masing-masing, saat jiwa menemukan jati dirinya yang
 selalu merindu dan mencari sang Pencipta. Yang tetap terbelenggu selama
 hayat dikandung badan, seperti badanpun tak dapat melampiaskan
 kesenangannya, karena selalu ada keterbatasan dalam setiap kesenangan.
 Batas makanan dan minuman yang lezat adalah keterbatasan perut dan
 segala yang lahir dari proses tersebut. Batas kesenangan libido ialah
 menghilangnya kegembiraan dipuncak kesenangan. Batas nikmatnya dunia
 ketika ajal tiba-tiba menemukan rambu-rambu: Stop! 

 Puasa: Da’wah, Tarbiyah, Jihad dan Disiplin

 Orang yang tertempa makan (sahur) disaat enaknya orang tertidur lelap atau
 berdiri lama malam hari dalam shalat qiyam Ramadlan, setelah siangnya
 berlapar haus atau menahan semua pembantal lahir bathin, sudah
 sepantasnya mampu mengatasi masalah-masalah da’wah dan kehidupannya
 tanpa keluhan, keputusasaan atau kepanikan. 

 Musuh-musuh ummat mestinya belajar untuk mengerti bahwa bayi yang
 dilahirkan ditengah badai tak akan gentar menghadapi deru angin. Yang
 biasa menggenggam api jangan diancam dengan percikan air. Mereka ummat
 yang biasa menantang dinginnya air diakhir malam, lapar dan haus diterik
 siang. 

 Mereka biasa berburu dan menunggu target perjuangan, jauh sampai
 keakhirat negeri keabadian, dengan kekuatan yakin yang melebihi
 kepastian fajar menyingsing. Namun bagaimana mungkin bisa mengajar orang
 lain, orang yang tak mampu memahami ajarannya sendiri? “Fadiqu’s
 Syai’la Yu’thihi’ (yang tak punya apa-apa tak kan mampu memberi
 apa-apa).

 Wahyu pertama turun dibulan Ramadlan, pertempuran dan mubadarah
 (inisiatif) awal di Badar juga di bulan Ramadlan dan Futuh (kemenangan)
 juga di bulan Ramadlan. Ini menjadi inspirasi betapa madrasah Ramadlan
 telah memproduk begitu banyak alumni unggulan yang izzah-nya membentang
 dari masyriq ke maghrib zaman. 

 Bila mulutmu bergetar dengan ayat-ayat suci dan hadits-hadits, mulut
 mereka juga menggetarkan kalimat yang sama. Adapun hati dan bukti, itu
 soal besar yang menunggu jawaban serius.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: